Menuju Reformasi, Gus Dur di Pusaran Reformasi 1998

- Jumat, 3 Desember 2021 | 12:15 WIB
Gus Dur dan Ade Armando. (Repro)
Gus Dur dan Ade Armando. (Repro)

MALANG, AYOMALANG.COM - Pada tahun 1994, Gus Dur menominasikan kembali untuk memimpin PBNU. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Gus Dur tidak terpilih.

Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.

Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi.

Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga.

Baca Juga: Mengenal Gus Dur, Awal Karir Sebagai Jurnalis hingga Mulai Terlibat di NU dan Politik

Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto.

Gus Dur menasihati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998.

Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.

Halaman:

Editor: Hari Istiawan

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bak Kepingan Surga! Pesona Alam Kepulauan Gili!

Kamis, 30 Juni 2022 | 14:40 WIB
X